Wayang Kulit
SantriStore
1.0 Varies with device
Dalam Aplikasi ini berisikan segala hal tentang Wayang Kulit.

Wayang dalam dalam bahasa Jawa kromo hinggil disebut kekayon merupakan kesenian tradisional asli Indonesia dan menceritakan leluhur orang Jawa. Mengenai arti kata wayang R.T. Josowidagdo berpendapat arti menurut bahasa “Ayang-Ayang” (Bayangan), karena yang dilihat adalah bayangannya dalam kelir tabir kain putih sebagai gelanggang pertunjukan wayang. Penciptaan segala bentuk apa saja dari wayang disesuaikan dengan adat keadaaan tokoh yang dibayangkan dalam angan-angan. Misalnya orang baik digambarkan dengan badannya lurus, mukanya tajam dan sebagainya, sedang orang jahat bentuk mulutnya besar, muka lebar dan seteruasnya.
Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata “Ma Hyang” yang artinya menuju kepada roh spiritual, Dewa atau Tuhan Yang Maha Esa. Ada juga yang mengartikan wayang adalah istilah bahasa Jawa yang bermakna “bayangan” hal ini disebabkan karena penonton juga bisa menonton wayang dari belakang kelir atau hanya bayangannya saja. Wayang kulit dimainkan oleh seorang Dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan oleh sekelompok niyogo dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.
Secara umum mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tidak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita panji.
Wayang berasal dari kata “ayang-ayang”,”wewayang” atau bayang-bayang. Dalam bahasa Jawa dikatakan “rerupa sing kedadeyan saka barang sing ketaman ing sorot (pepadhang)”, rupa yang tercipta dari sesuatu yang terkena sorot sinar.
Dalam kitab centhini dijelaskan mengenai asal-usul wayang yang mula-mula diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kerajaan Kedirisekitar abad ke-10. Raja Jayabaya berusaha menciptakan gambaran dari tokoh leluhurnya yang sengaja digambar diatas daun lontar. Bentuk gambaran wayang tersebut ditiru dari gambaran relief cerita Ramayana pada Candi Penataran di Blitar. Figur tokoh yang digambarkan untuk pertama kali adalah Batara Guru atau Sang Hyang Jagatnata yaitu perwujudan dari Dewa Wisnu.
Dan Seterusnya..........

In this application contains everything about Wayang Kulit.

Puppet in the Java language called chromo hinggil Kekayon an Indonesian traditional arts and communicating the ancestors of the Javanese. Regarding the meaning of the word puppet R.T. Josowidagdo argue the meaning of the language of "Ayang-Ayang" (Shadows), because of the visits is a reflection in the color white as the cloth curtain rink puppet show. The creation of any form of any of puppet figures adjusted to customary circumstances envisaged in wishful thinking. For example, people described by his body straight, his face sharp and so, being a bad person forms a large mouth, face width and seteruasnya.
Wayang kulit is a traditional Indonesian art is mainly developed in Java. Wayang comes from the word "Ma Hyang" which means that leads to spiritual spirit, god or God Almighty. There is also interpreted Javanese wayang is a term that means "shadow" and this is because viewers can also watch a puppet show from behind the curtain or imagining. Shadow puppets played by a puppeteer who is also the narrator's dialogue puppet characters, to the accompaniment of gamelan music played by a group niyogo and songs sung by the singer.
Generally took the story from the Mahabharata and Ramayana manuscript, but is not limited only with the standard (standard), the mastermind ki can also play carangan (composition). Some of the stories are taken from the story of the banner.
Wayang comes from the word "democratically-ayang", "wewayang" or shadows. In the Java language is said to be "rerupa kedadeyan saka sing sing ketaman ing highlight items (pepadhang)", such that is created from something that is exposed to the beam.
In the book Centhini explained about the origins of the first puppet was created by the King of the Kingdom Kedirisekitar Jayabaya of the 10th century. King Jayabaya trying to create a picture of ancestral figures are deliberately drawn on palm leaves. The shape of the puppet picture copied from a picture relief Ramayana story on temple Penataran in Blitar. Figure figure is drawn for the first time or Sang Hyang Guru Jagatnata is a manifestation of the god Vishnu.
Etc..........

Content rating: Everyone

Requires OS: 2.3 and up

...more ...less